Newsflash

“Sudah dekat hari Tuhan yang hebat itu, sudah dekat dan datang dengan cepat sekali.” Zefanya 1:14.
 
HOME arrow BELAJAR FIRMAN TUHAN arrow PENDALAMAN ALKITAB arrow HIDUP SORGAWI MASA DEPAN
HIDUP SORGAWI MASA DEPAN PDF  | Print |  E-mail
Tuesday, 20 July 2010
ImageSUASANA HIDUP SORGAWI MASA DEPAN
DIMULAI DENGAN HIDUP SORGAWI MASA KINI
Oleh: Ellen G. White

Disadur dan diterjemahkan dinamis oleh Pdt. Hotma S.P. Silitonga

(Dari The Signs of the Times, 24 Februari 1890 dan 14 Nopember 1892;
Education, 18; Gospel Workers, 95; Messages to Young People, 40;
Review and Herald, November 24, 1904; Adventist Home, 16;
Thoughts From the Mount of Blessing, 76-77; Child Guidance, 481-2;
Last Days Events, 295-6; The Faith I Live By (1958), 370.)

PENDAHULUAN

Ada dua sebutan penting yang hamba Allah untuk zaman akhir nyatakan dari buku Rumah Tangga Advent dan Mendidik dan Membimbing Anak yang dalam bahasa aslinya berbunyi “If you would be a saint in heaven, you must be a saint on earth” (Adventist Home, 16) dan yang satu lagi, “The saint in heaven must first be a saint upon earth” (Child Guidance, 481). 

Pada dasarnya makna kedua kutipan penting ini adalah BAHWA JIKALAU KITA MAU MENJADI ORANG SALEH DI DUNIA BARU SORGAWI PADA MASA YANG AKAN DATANG UNTUK SELAMA-LAMANYA, MAKA KITA HARUSLAH MENJADI ORANG SALEH DI BUMI INI PADA MASA SEKARANG INI SELAGI HAYAT DI KANDUNG BADAN.

Pernyataan ini tentunya sangat sejalan dengan CITA-CITA RAJA SORGA BAGI ANAK-ANAK-NYA, yaitu “Higher than the highest human thought can reach is God's ideal for His children. Godliness--godlikeness--is the goal to be reached” (Education, 18; Gospel Workers, 95; Messages to Young People, 40; Review and Herald, November 24, 1904). 

Cita-cita Raja Sorga ini sangat erat hubungannya dengan pernyataan Yesus Kristus di Matius 5:48 dan Lukas 6:36 yang INTINYA ADALAH AGAR UMAT-NYA SAMA SEPERTI RAJA SORGA YANG PENUH BELAS KASIHAN, KARENA RAJA SORGA ITU MAHA KASIH (1 Yohanes 4:8,16; Keluaran 34:5-7).

Sekali lagi hamba Allah untuk zaman akhir mengomentari Matius 5:48 di Thoughts From the Mount of Blessings, 76-77 sebagai berikut: “The conditions of eternal life, under grace, are just what they were in Eden--perfect righteousness, harmony with God, perfect conformity to the principles of His law. The standard of character presented in the Old Testament is the same that is presented in the New Testament. This standard is not one to which we cannot attain. In every command or injunction that God gives there is a promise, the most positive, underlying the command. God has made provision that we may become like unto Him, and He will accomplish this for all who do not interpose a perverse will and thus frustrate His grace.” 

Selanjutnya Roh Kudus yang sama dengan Roh Nubuat dan Roh Kebenaran mengilhami hamba Allah untuk zaman akhir itu dan menyatakan “Jesus Christ said, Be perfect as your Father is perfect. If  you are the children of God you are partakers of His nature, and you cannot but be like Him. Every child lives by the life of his father. If you are God's children, begotten by His Spirit, you live by the life of God. In Christ dwells "all the fullness of the Godhead bodily" (Colossians 2:9); and the life of Jesus is made manifest "in our mortal flesh" (2 Corinthians 4:11). That life in you will produce the same character and manifest the same works as it did in Him. Thus you will be in harmony with every precept of His law; for "the law of the Lord is perfect, restoring the soul." Psalm 19:7, margin. Through love "the righteousness of the law" will be "fulfilled in us, who walk not after the flesh, but after the Spirit." Romans 8:4.

Agama sejati berdasarkan Alkitab “bukanlah iman yang tidak mempunyai perbuatan” (Yakobus 2:14-26).  Orang Kristen bukanlah sekedar melakukan pengakuan iman terhadap Kristus secara formalitas, melainkan ia patut memiliki budaya hidup yang selalu “melakukan kehendak Bapa Sorgawinya” (Matius 7:21-23).  Kasih Sorgawi yaitu yang benar-benar mengasihi Bapa akan membuka hati pikirannya, sehingga budaya hidupnya rela berbelas kasihan sama seperti Bapanya (Matius 5:48; Lukas 6:36). 

Ia menyadari betul apa yang dimaksud dengan “suasana hidup lapar dan haus akan kebenaran” (Matius 5:6), sehingga ia akan terus menerus merindukan kuasa dan kasih karunia Yesus Kristus yang pasti terpantul di dalam budaya hidupnya dengan tujuan untuk “hanya memuliakan Bapa Sorgawi” (1 Korintus 10:31).  Setiap kesempatan yang ada dalam berbuat kebajikan kepada siapa saja untuk siapa Yesus Kristus telah mati, pastilah tidak dilewatkan dan akan selalu mengalami perkembangan normal. 

Kasih Bapa Sorgawi akan mengubah budaya hidupnya, dan akan dibentuklah “sesuai gambar dan citra Bapa Sorgawi” (Kejadian 1:26-27).  Itulah sebabnya utusan Sorgawi menyatakan: “Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia” (Yakobus 1:27).
 
Dengan tuntuntan Roh Kudus, pada saat yang indah ini kita akan mendalami Firman Raja Sorga yang bertitik pusat pada tema khusus:  

SUASANA HIDUP SORGAWI MASA DEPAN
DIMULAI DENGAN HIDUP SORGAWI MASA KINI
 
PEMBAHASAN KHUSUS

Dalam melakukan segala pekerjaan Yesus Kristus, yaitu menjadi duplikat hidup-Nya dalam pelayanan Kristiani melalui sebuah budaya penginjilan Sorgawi, misalnya: memberi makan yang lapar, memberi pakaian kepada yang telanjang, melawat orang sakit, mencelikkan mata orang buta, menjadi penolong bagi yang lumpuh, menaruh belas kasihan pada para yatim piatu, maka masing-masing pengikut Kristus sudah menghidupkan secara nyata budaya hidup Sorgawi yang merupakan agama sejati berdasarkan Alkitab.  Dengan melakukan segala pekerjaan Yesus Kristus ini tentunya tidak akan ada penyesalan.  Bilamana prinsip-prinsip kasih Bapa Sorgawi dipantulkan dalam kehidupan sehari-hari demi Yesus Kristus, masing-masing pasti mengalami kebahagian sejati dan damai sejahtera (Galatia 5:22-23). 

Segala ambisi duniawi, misalnya “percabulan, kecemaran, hawa nafsu,  penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya” (5:19-21), akan dibuang jauh-jauh dari pemikirannya.  Segala praktek budaya kejahatan seperti ini tidak akan membuahkan kenikmatan Sorgawi.  Bapa Sorgawi menyatakan bahwa tidak akan ada damai sejahtera bagi orang yang membudayakan kejahatan, dan kecuali mereka bertobat maka tidak akan pernah terdapat kebahagiaan sejati.

“Siapa saja yang ada di dalam Yesus Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (2 Korintus 5:17).  Hal ini berarti bahwa orang Kristen ini patut memiliki motivasi tindakan hidup yang baru dan mulia, karena “Kasih Kristuslah yang menguasai dan yang mengendalikan hidupnya” (5:14; Filipi 2:5-11).  Mengasihi Bapa Sorgawi dan juga sesama manusia seperti diri kita sendiri merupakan pembudayaan hidup Sorgawi yang sejati.  Kesombongan akan dibuang jauh-jauh dari dalam batin hidupnya, dan dengan segala kerendahan hati Sorgawi, “yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri” (2:3).  Budaya hidup seperti ini menjadi ujian yang berat bagi mereka yang secara alami “hanya memperhatikan kepentingannya sendiri” (2:4).  Banyak orang yang meremehkan orang lain karena status hidupnya dari segi kelahiran ataupun pendidikan lebih rendah dari dirinya.  Mereka meninggikan pertimbangan dan pengalaman hidupnya, dan memandang rendah orang-orang yang dari segi situasinya lebih berat beban hidupnya dibandingkan dengan dirinya. 

Akan tetapi, bilamana mereka ini memperlakukan manusia berdasarkan cara pandang Bapa Sorgawi melihat manusia, pasti tindakan mereka akan berbeda seperti sekarang ini.  Setiap tindakan yang dilakukan terhadap sesama manusia berada dalam pengevaluasian Bapa Sorgawi.   Yesus Kristus berkata: “Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini.  Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Sorgawi-Ku” (Matius 18:10).

Mereka yang menghidupkan budaya Sorgawi patutlah dari hari ke hari bertumbuh dalam kasih, kelemahlembutan, kesabaran dan tabiat yang menyenangkan.  Karena sementara iman bertumbuh terus, budaya hidup Sorgawi pun terus bertumbuh.  “Hidup kekal dalam arti pengenalan akan Bapa Sorgawi melalui Yesus Kristus” (Yohanes 17:3) semakin meluas, dan kasih Sorgawi semakin bertambah, karena “Bapa Sorgawi adalah kasih” (1 Yohanes 4:8, 16).  Kasih Bapa Sorgawi bukanlah seperti apa yang manusia miliki yaitu melalaikan pelayanan penginjilan Sorgawi. 

Banyak orang yang budaya hidup Sorgawinya hanya setengah-setengah saja.  Pada satu saat tertentu, ia kelihatan rendah hati sehingga menganggap orang lain lebih utama dari dirinya, namun bila egonya muncul, kelembutan hatinya hancur sehingga ia jadi tidak sabar.  Kasihnya terhadap Bapa Sorgawi tidak sejalan dengan kasihnya terhadap sesamanya.  Kasihnya terhadap saudaranya begitu tidak teratur, sehingga bercampur kedengkian, kejahatan serta kecemburuan duniawi.  Orang-orang seperti ini tidak pernah menyerahkan hidupnya dengan sungguh-sungguh kepada kehendak Bapa Sorgawi. 

Mereka patut belajar dari Panglima Penginjil Terbesar demi keselamatan umat manusia, yaitu Yesus Kristus.  Kristus berkata: “Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku” (Yohanes 5:30).  Bilamana budaya Yesus Kristus ini menjadi milik kita, kita akan mengasihi dan bekerja seperti Yesus Kristus telah mengasihi dan bekerja.  Bilamana kasih Yesus Kristus menguasai hidup kita, hal inilah yang akan mengendalikan pengaruh hidup kita baik dalam pikiran maupun dalam perasaan.

Situasi dan kondisi apa pun yang kita miliki dalam hidup ini, sungguh suatu kesempatan yang mulia bagi kita untuk memiliki “iman yang bekerja oleh kasih” (Galatia 5:6) serta pasti menjadi budaya Sorgawi.  Iman yang menghasilkan kasih terhadap Bapa Sorgawi dan sesama manusia adalah iman sejati.  Nama baik dalam arti sifat dan tabiat Bapa Sorgawi tidak akan digunakan dengan sembarangan.  Bilamana kita menempatkan kedudukan Bapa Sorgawi setingkat dengan manusia, hal itu merupakan sesuatu yang tidak menghormati Allah (Keluaran 20:7). 

Kita patut menjaga Nama Baik Yesus Kristus dengan penuh hikmat dalam segala percakapan kita.  Firman Allah berkata: Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,  yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.  Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib (Filipi 2:5-8).

Kiranya kita menyebut nama-Nya yang indah itu dengan penuh hormat.  Beberapa orang telah membuat pertimbangan dirinya sendiri dalam hal ini, sehingga melalui sikap dan perkataannya, ia tidak menaruh hormat terhadap Nama Yesus Kristus.  Misalnya saja dalam acara peribadatan ataupun dalam percakapan sehari-hari.  Agama sejati bukanlah dinyatakan melalui suasana keributan, atau gerak gerik yang tak bermakna, maupun tindak laku yang tidak patut. 

Pembudayaan hidup Sorgawi akan membuat seseorang tenang dan memiliki perasaan yang Kristiani.  Mereka akan bertindak rendah hati, sopan, manis budi, panjang sabar serta penuh belas kasihan (Galatia 5:22-23).  Inilah pada dasarnya budaya hidup Sorgawi, yaitu agama sejati berdasarkan Alkitab oleh tuntunan Roh Kudus yang disebut dengan “hidup sejati dan abadi” (Yohanes 17:3).

Firman Allah bersabda: “Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?  Aku, YHWH, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya" (Yeremia 17:9-10).  Masing-masing yang tidak menyadari keadaan ini akan dituntun kepada kehidupan beragama yang palsu atau tiruan.  Mengapa demikian?  Mereka menghidupkan budaya mengandalkan diri sendiri alias manusiawi gantinya membudayakan hidup Sorgawi yaitu mengandalkan pertimbangan Bapa Sorgawi (Yeremia 17:5-8).

Salah satu ciri-ciri kasih sejati yang utama adalah kerendahan hati.  Firman Allah berkata dalam satu surat yang disebut “Fatsal Kasih,” sebagai berikut: Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.  Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.  Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.  Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu (1 Korintus 13:4-7).

Orang-orang yang dengan sungguh-sungguh rajin melakukan pelayanan penginjilan Sorgawi akan tidak pernah mengandalkan dirinya.  Buah Roh Kudus yang dinyatakan di Galatia 5:22-23 akan tampil prima, dan buah roh duniawi di Galatia 5:19-21 akan disingkirkan jauh-jauh.  “Karena Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia” (Roma 13:10).

Seorang Kristen pernah bercerita tentang tiga keheranan realita yang akan diharapkannya terjadi bilamana dia berada di dalam Sorga.  Pertama, ia akan heran mendapati bahwa orang yang tidak diharapkannya berada di Sorga, ternyata berada di Sorga.  Kedua, ia akan heran menyatakan bahwa orang yang sungguh-sungguh diharapkannya ada di Sorga, ternyata tidak ada di Sorga.  Ketiga, ia sangat heran menyatakan bagaimana dirinya yang tidak layak dan penuh dosa bisa berada di Sorga, yaitu di Taman Firdaus Sorgawi. 

Adalah merupakan suatu realita di saat Maranata yang akan datang, bahwa banyak orang Kristen yang mempunyai kedudukan tinggi secara status dunia di dalam kehidupannya sehari-hari, ternyata tidak akan menikmati suasana hidup bersama Bapa Sorgawi untuk masa yang abadi dan sejati.  Mereka ini adalah orang-orang yang bertalenta dan berpengetahuan secara luar, namun membudayakan hidup dengki dan pertikaian duniawi.  Budaya hidupnya tidaklah pernah selaras dengan penyangkalan diri dan kelemahlembutan Yesus Kristus.

Mereka hanya suka memamerkan pekerjaan akbar secara luar agar dapat penghormatan dari manusia, tetapi nama orang-orang ini tidak tertulis di dalam Kitab Kehidupan Anak Domba Allah.  Ungkapan, “Aku tidak pernah mengenal kamu” (Matius 7:23; 25:12) akan keluar dari Diri Yesus Kristus kepada mereka, dan hal itu menjadi kata-kata yang sangat menyedihkan.

Akan tetapi, kepada mereka yang walaupun melakukan pelayanan yang tergolong kecil namun diliputi tindakan belas kasihan dan manis budi serta penuh simpati Sorgawi, bahkan hidupnya dipenuhi dengan perjuangan dan pertentangan serta tidak pernah melakukan pekerjaan akbar yang tujuannya untuk dapat pujian manusia, orang-orang seperti inilah yang namanya pasti tercatat di Buku Kehidupan Anak Domba Allah.  Walaupun dunia menganggap mereka itu orang yang tidak penting, justru merekalah yang berkenan kepada Bapa Sorgawi di hadapan alam semesta.  Mereka akan terharu dan terheran-heran serta takjub mendengar kata-kata dari Gembala Agung Sorgawi, Yesus Kristus, sebagai berikut: “Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan” (Matius 25:34).

PENUTUP/KESIMPULAN

KARAKTER ALAMI SEPULUH IDAMAN HIDUP
DASASILA HIDUP KEKAL
Oleh YESUS KRISTUS, TUHAN DAN JURUSELAMAT

Seorang yang berdosa mengajukan salah satu pertanyaan yang terbesar kepada Yesus Kristus, Sang Guru Besar: “Apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" (Lukas 10:25).  Kemudian Yesus Kristus menjawab: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?"   Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." 

Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup" (10:26-28).  Selanjutnya, Dokter Lukas mendata sebuah perumpamaan yang merupakan realita hidup melalui “seorang Samaria yang berbelas kasihan” (10:29-37).  Inilah Budaya Hidup Sorgawi yang sejati.  Itulah sebabnya Yesus Kristus menegaskan: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (10:37).

Filsafat Hidup Sorgawi yaitu K-A-S-I-H dapat dijabarkan sebagai K-arakter A-lami S-epuluh I-daman H-idup.  Prinsip ini dapat disebut dengan DASASILA HIDUP KEKAL.  Inilah garis besarnya:

1.HARAP PADA TUHAN Amsal 3:5-10 dan Mazmur 37:3-5
2.ISTIRAHAT  YANG  CUKUP Kejadian 28:1-17; Ayub 3:13; 11:18-19; Mazmur 4:9; Pengkhotbah 5:11
3.DIET     YANG   BERGIZI Pengkhotbah 10:17; 1 Korintus 6:12-20; 10:31; Yesaya 55:2
4.UDARA  SEGAR--------------------- Mazmur 23:1-6
5.PERTARAKAN SEJATI Galatia 5:22 dan 1 Korintus 9:25
6.KUASA SINAR MATAHARI -- Maleakhi 4:2 dan Mazmur 84:12
7.EDEN, TAMAN YANG TERINDAH - Roma 12:1-2; Matius 5:48; Lukas 6:36; 3 Yohanes 2; 1 Yohanes 3:1-5; Matius 28:18-20
8.KARAKTER SORGAWI YANG PRIMA -------- Matius 5:3-12
9.AIR BERSIH MENYEHATKAN - Yesaya 55:1 dan Wahyu 22:17
10.LATIHAN BADANI SECARA TERATUR -- 1 Korintus 9:24-27

Cita-cita Raja Sorga yang menjadi BUDAYA HIDUP SORGAWI umat-Nya dapat disingkat dengan S-O-R-G-A yang kepanjangannya adalah sebagai berikut:

S-erahkanlah seluruh hidupmu menjadi ibadah sejati (Roma 12:1-2)
O-rang Saleh yang sempurna berbelas kasihan (Mat. 5:48; Luk. 6:36)
R-aga dan jiwa sehat walafiat seutuhnya (3 Yohanes 2)
G-ambar Citra Raja Sorga Yang Sejati tampil prima (1 Yoh. 3:1-5)
A-llah selalu menyertai umat-Nya sampai Maranata (Matius 28:18-20)

Kepada orang-orang seperti ini, pernyataan Firman Raja Sorga dalam Daniel 12:3 akan menjadi budaya hidupnya.  Mereka adalah “orang-orang bijaksana yang akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya.”   Inilah agama sejati berdasarkan Alkitab, yaitu orang-orang yang selalu dipimpin oleh Roh Allah dari sekarang sampai MARANATA (Roma 8:14). 

Mereka memiliki budaya penginjilan Sorgawi di sepanjang kehidupannya.  Mereka menginjil melalui kesaksian hidup Kristianinya DALAM ARTI MENGHIDUPKAN BUDAYA SORGAWI YANG SALEH DAN SEJATI SELAGI HAYAT DI KANDUNG BADAN, kapan saja, di mana saja, kepada siapa saja dan dalam situasi apa saja SAMPAI MARANATA.

(Sumber : WAO)

 
< Prev   Next >
© 2010 BOGOR Seventh Day Adventist
BogorSDA-BogorSDA